Connect with us

Sains & Teknologi

Saran Epidemiolog Agar Antisipasi Varian Baru Covid-19 India Lebih Efektif

Published

on

TEMPO.CO, Yogyakarta – Epidemiolog dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Riris Andono Ahmad meminta pemerintah perlu mengefektifkan langkah-langkah antisipasi masuknya varian baru Covid-19 ke Indonesia, khususnya dari India.

Situasi kasus Covid-19 di India kini semakin parah setelah ditemukannya varian B.1.617 yang kabarnya lebih ganas, tak mudah dideteksi, dan belum ada varian vaksinnya itu menuntut langkah lebih tegas.

“Varian mutasi Corona India ini rute dan model penularannya tetap sama, masih dari droplet, hanya dengan probabilitas penularan per satuan kontak yang lebih tinggi,” kata Riris Minggu 2 Mei 2021.

Dengan rute dan mode penularan yang sama itu, ujar Riris, maka sebenarnya cara pencegahannya juga sama.

“Cara antisipasi penularan yang paling tepat hanya dengan menurunkan kontak, menurunkan mobilitas dan interaksi orang-orang,” kata Riris yang juga Direktur Pusat Kedokteran Tropis UGM itu.

Sayangnya, meski Pemerintah Indonesia sejak awal sudah menerapkan kebijakan 3M menjadi 5M, di lapangan aturan itu kurang punya daya. “Dari kebijakan 5M itu, masalahnya sudah dijalankan dengan optimal dan konsisten tidak?” kata Riris.

Riris menilai ketika sejumlah negara lain belakangan kembali melakukan lockdown akibat penularan kembali melonjak seiring mutasi Corona itu, Indonesia tidak bisa tutup mata untuk mengikutinya. “Kalau memang meningkat drastis lagi, mungkin perlu dipertimbangkan lockdown yang sudah dilakukan negara lain itu,” katanya.

Bila perlu, ujar Riris, dalam situasi genting menghadapi lonjakan kasus, tak perlu ragu dalam penanganan kasus memberlakukan sistem komando, dalam arti benar-benar ketat dan tanpa pandang bulu. Langkah itu menjamin instruksi dari pusat tidak bisa lagi ditawar-tawar pemerintah di daerah, seperti dalam pembatasan mobilitas penduduk.

“Sistem komando secara teknis kalau memang mau efektif pengendaliannya. Masalahnya kan dalam soal kebijakan seperti ini kita terbentur dengan konsep demokrasi dan desentralisasi. Pusat menerapkan kebijakan ini, daerah responnya berbeda,” kata Riris.

Satu contoh jelas, misalnya saat menyambut Lebaran, manakala pusat meminta semua penyekatan dilakukan seluruh provinsi di Jawa. Namun di satu sisi masyarakat dalam satu provinsi masih bisa melakukan mobilitas secara bebas.

Riris menilai kebijakan dispensasi mobilitas dalam satu wilayah itu memang tak masalah selama itu masih dalam satu satuan epidemiologis. “Mobilitas dalam satu wilayah memang masih masuk akal karena sehari-hari mobilitas penduduk itu dalam wilayah tersebut,” kata dia.

Hanya sayangnya, kata dia, yang menjadi soal bukan label larangan mudik atau tidaknya, tetapi restriksi dari mobilitas itu.

“Restriksi mobilitas ini yang membuat kebijakan larangan mudik itu jadi ambigu. Karena saat mudik dilarang, tetapi masyarakat didorong untuk berwisata lokal, dan tempat tujuan wisata diiklankan untuk menjaring wisatawan lokal,” kata dia.

Contoh selain itu, ujar Riris, walau ada larangan mudik untuk pencegahan penularan Covid-19, namun ada pemerintah yang menyatakan tidak ada larangan untuk melakukan Salat Ied berjamaah dalam jumlah besar.

Baca:
Roket 21 Ton Cina Bakal Jatuh ke Bumi dengan Tidak Terkendali



Source link

https://tekno.tempo.co/read/1458738/saran-epidemiolog-agar-antisipasi-varian-baru-covid-19-india-lebih-efektif

Continue Reading